Ad 728x90

Minggu, 21 Oktober 2018

Lapas Kelas 3 Banyuasin Gunakan Stempel UV Untuk Menertibkan Pengunjung

Lapas Kelas 3 Banyuasin Gunakan Stempel UV Untuk Menertibkan Pengunjung


Dalam rangka meningkatkan kenyamanan pelayanan dan ketertiban pengunjung, Lapas Banyuasin menerapkan dua inovasi terbaru, di antaranya sendal khusus pengunjung dan stempel sinar Ultraviolet (UV).

Dikatakan Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Banyuasin Reza Yudhistira Kurniawan, A.Md.IP, SH, M.Si, sandal khusus pengunjung ini bertujuan untuk mengantisipasi dan meminimalisir masuknya barang-barang terlarang ke dalam Lapas.

"Pengunjung maupun warga binaan memiliki banyak sekali cara atau modus operandi untuk memasukan barang terlarang seperti Narkoba dan hal-hal lainnya ke dalam sepatu atau sandal, untuk itu kita antisipasi dengan menyediakan sandal di ruang tunggu kunjungan untuk dipakai sebelum masuk ke dalam Lapas," ungkapnya.

Demikian pula dengan Cap/ Stempel UV, Alumnus Akademi Ilmu Pemayarakatan ini menambahkan, Stempel UV ini adalah inovasi Lapas Banyuasin untuk meningkatkan keamanan dan ketertiban serta mencegah warga binaan agar tidak menyelinap di antara pengunjung yang keluar karena antara pengunjung dan warga binaan dibedakan berdasarkan Stempel yang diberikan oleh petugas P2U.

"Stempel ini tidak dapat dilihat dengan kasat mata, melainkan butuh Senter sinar Ultraviolet untuk melihatnya," pungkasnya.

Lebih lanjut Reza mengatakan, Lapas Banyuasin merupakan satu-satunya UPT di Sumatera Selatan yang menerapkan program ini.

"Saya rasa, untuk di wilayah Sumatera Selatan, baru UPT Lapas Banyuasin yang menerapkan inovasi ini," tambahnya.

Senada dengan Kalapas, Efriansyah salah penjaga pintu utama (P2U) berterimakasih sekali dengan program sendal kunjungan ini karena dapat memudahkan pemeriksaan.

"Sepatu atau sendal dari luar menjadi salah satu tempat yang dicurigai masuknya barang-barang yang terlarang", ungkapnya.

Selain itu, Stempel UV disebut Efri dapat meningkatkan keamanan dan kebersihan pengunjung.

"Stempel UV seperti ini tidak dapat diduplikasi atau dimanipulasi sehingga lebih terjaga keamanan dan pengunjung pun tidak risih karena hasil stempel tidak terlihat," tambahnya.

Ferdinand salah satu pengunjung Lapas Banyuasin mengungkapkan, program ini bagus sekali karena dapat menjaga kebersihan baik badan maupun tempat kunjungan.

"sempet bingung juga dengan program baru ini, tapi setelah dijalani ternyata ada manfaatnya juga untuk kenyamanan kunjungan," pungkasnya. (*)

Sumber: http://banyuasinonline.com/inovasi-stempel-uv-tingkatkan-pengawasan-pengunjung-lapas/
Rujak Jambu Bangkok, Atasi Kantuk Dalam Perjalanan Inderalaya - Palembang

Rujak Jambu Bangkok, Atasi Kantuk Dalam Perjalanan Inderalaya - Palembang


Rujak Jambu Bangkok - Berdasarkan pantauan tim MetroPalembang.com, disepanjang jalan kawasan belakang komplek Universitas Sriwijaya ini terdapat beberapa pedagang yang menyajikan Rujak Jambu Bangkok, yang umumnya dihargai  Rp 10 ribu per porsi.

Penjaja yang merupakan seorang perempuan setengah dewasa ini agak malu menyebutkan namanya ketika ditanyai tim MetroPalembang.com. Dengan terampil tangannya mengupas dan memotong-motong buah jambu bangkok yang seukuran dua atau tiga kali tangannya.

Setelah terpotong rapi buah Jambu Bangkok ini siap disajikan dengan 3 varian rasa seperti Pedas, Manis dan Pedas Manis. Oya selain Jambu Bangkok, ayuk ini juga menjual beberapa macam jenis buah jambu seperti Jambu Jamaika dan Jambu Air biasa.

Tak tanggung-tanggung, dengan berjualan mulai jam 10 pagi sampai sore hari biasanya ayuk ini menjual sekitar 30-50 porsi lebih perhari. Waaah luamayan kan omsetnya, kalau sudah sore ia juga sering ditemani oleh suami dan anaknya ketika berjualan.

Untuk buah Jambu Bangkoknya sendiri, ia mengaku dapat kiriman langsung dari agen yang berada di Medan. Sedangkan Jambu Air dan Jambu Jamaika ia dapatkan dari hasil pemilik-pemilik kebun lokal yang tak jauh dari tempat dia berdagang.

Tuh solusi banget ini guys, buat yang sedang dalam perjalanan dan kebetulan melintasi kawasan tersebut, dapat mencicipi sensasi segar dan rasa pedasnya rujak buah pedagang-pedagang disini. Diijamin hilangkan kantuk bagi yang nyetir dan bikin seger bagi penumpangnya. [foto: Iwank]
Pasar Inderalaya Sudah Dapat Ditempati Awal Tahun 2019

Pasar Inderalaya Sudah Dapat Ditempati Awal Tahun 2019



Pengerjaan lanjutan rehab Pasar Indralaya yang terletak di KM 37 Jalan Lintas Timur Palembang-Kayuagung dikebut. Pihak Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PU Perkim) memstikan akhir tahun ini proyek tersebut selesai dan ditempati bulan Januari 2019 atau sesuai target.

.
"Beberapa bagian sudah rampung, tinggal berapa los lagi yang belum. InsyaAllah pasar Indralaya ini akan selesai tepat waktu, dan para pedagang bisa menempatinya tahun depan," ujar Kepala Dinas PU Perkim Yulius didampingi Kabid Tata Bangunan, Syarifudin diruang kerjanya.

Untuk itu, pihaknya berharap agar para pedagang bisa sedikit besabar karena rehab pembangunan pasar ini bukan sedikit melain ada beberapa bagian bangunan yang ditambah.

"Yang pasti, pengerjaan proyek ini terus kita pantau dan pihak ketiganya terus kita desak untuk segera menyelesaikannya sesuai target," tukasnya.

Sumber : Nara Sumsel
Facebook @oganilirterkini
Buset Tembus 5 Ribu, 2018 Kota Palembang Kebanjiran Duda dan Janda

Buset Tembus 5 Ribu, 2018 Kota Palembang Kebanjiran Duda dan Janda


Sementara untuk jumlah panitera sendiri ada total 18 panitera, dengan rincian, 1 Panitera, 3 Panitera muda dan 13 Panitera Pengganti.

Total jumlah panitera di Pengadilan Agama Kelas 1A Palembang dengan rincian, Panitera Pengadilan Agama Palembang Drs H Taptazani SH yang menaungi Panitera Muda Hukum, Drs Sahim, Panitera Muda Gugatan, Dra Sundari, dan Panitera Muda Permohonan, Suratmin SH MH.

Sedangkan Panitera Pengganti Pengadilan Agama Kelas 1A Palembang berjumlah 14 nama, yakni Alhamidi SH, Azhari SH Msi, Drs Darul Kutmi, Jek Laymar Putra SH, Jumheri SH, Dra Maimunah, Masmiroh SAg, Bahwa SH, Dra Novie Sulastrie, Rafiah Laili SH, Rohmayani, Dra Ruslaini SH, Siti Aisyah SH, dan Drs Syamsu.

Untuk penambahan Panitera dan Hakim di Pengadilan Agama Kelas 1A Palembang, pihaknya masih menunggu arahan dari pusat.

"Setiap tahun biasanya ada tes Hakim serta Panitera, namun semua melalui tes yang diseleksi dari pusat," jelas Panitera Pengadilan Agama Kelas 1A Palembang, Drs H Taptazani SH.

Ia berharap, kedepannya akan ada penambahan hakim muda di pengadilan Agama Kelas 1A Palembang, mengingat untuk ruang sidang, Pengadilan Agama Palembang memiliki 3 ruang sidang.

"Apabila ditambahkan dengan hakim-hakim yang masih muda mungkin akan sangat efektif mempercepat urusan di Pengadilan Agama Palembang," ujarnya.

Sementata itu, berdasarkan data didapat, 27 hakim aktif di Pengadilan Agama Palembang ini terdiri dari tahun kelahiran 1955, 1959, 1962, 1954, 1957, 1953, 1963, 1956, 1959, 1968, 1961.

Sedangkan yang tergolong kategori muda, tahun kelahiran 1968 hanya berjumlah satu orang, yaitu atas nama Drs Cik Basir SH, MHI, dengan status Hakim Tetap atau Aktif.

Sementara ini Pengadilan Agama Kelas 1A Palembang memiliki 3 ruang sidang. Berikut rekap keadaan perkara pada Pengadilan Agama Palembang:

Tahun 2016 :
Terima 2711
Putus 2751
Sisa 544

Tahun 2017: 
Terima 3302
Putus 2825
Sisa 478

Tahun 2018:
Terima 2440
Putus 2230
Sisa 4903

Dengan rincian tahun 2018 :

Januari (Terima 336, Putus 236, Sisa 577)
Februari (Terima 244, Putus 260, Sisa 561)
Maret (Terima 250, Putus 304, Sisa 507)
April (Terima 248, Putus 259, Sisa 505)
Mei (Terima 211, Putus 257, Sisa 479)
Juni (Terima 145, Putus 119, Sisa 485)
Juli (Terima 331, Putus 269, Sisa 547)
Agustus (Terima 281, Putus 273, Sisa 555)
September (Terima 394, Putus 262, Sisa 687)
Total (Terima 2440, Putus 2230, Sisa 4903)

Laporan penyebab terjadinya perceraian pada Pengadilan Agama Kelas 1A Palembang:

Tahun 2016:
Zina (1)
Mabuk (3)
Madat (6)
Judi (3)
Meninggalkan Salah Satu Pihak (660)
Dihukum Penjara (18)
Poligami (11)
KDRT (89)
Cacat Badan -
Perselisihan dan Pertengkaran Terus Menerus (601)
Kawin Paksa -
Murtad -
Ekonomi (359)
Jumlah (1751)

Tahun 2017:
Zina (10)
Mabuk (46)
Madat (47)
Judi (23)
Meninggalkan Salah Satu Pihak (368)
Dihukum Penjara (18)
Poligami (18)
KDRT (69)
Cacat Badan -
Perselisihan dan Pertengkaran Terus Menerus (1166)
Kawin Paksa (4)
Murtad (8)
Ekonomi (183)
Jumlah (1960)

Tahun 2018:
Zina (3)
Mabuk (10)
Madat (5)
Judi (4)
Meninggalkan Salah Satu Pihak (73)
Dihukum Penjara (12)
Poligami (6)
KDRT (17)
Cacat Badan -
Perselisihan dan Pertengkaran Terus Menerus (809)
Kawin Paksa -
Murtad -
Ekonomi (89)
Jumlah (1028)

Laporan Data Talak Cerai dan Gugat Cerai Pengadilan Agama Kelas 1A Palembang:

Tahun 2014 : 
375 (Talak Cerai) 
1.222 (Gugat Cerai)
1.597 (Jumlah).

Tahun 2015 : 
361 (Talak Cerai) 
1.285 (Gugat Cerai) 
1.646 (Jumlah)

Tahun 2016 :
548 (Talak Cerai) 
2.439 (Gugat Cerai)
2.987 (Jumlah)

Tahun 2017 :
566 (Talak Cerai) 
1.851 (Gugat Cerai) 
2.417 (Jumlah)

Sementara untuk data Januari hingga September 2018 :
489 (Talak Cerai) 
1.723 (Gugat Cerai) 
2.212 (Jumlah)

Artikel ini telah tayang di sripoku.com dengan judul Berita Terkini Palembang: Calon Janda dan Duda di Kota Palembang Tahun 2018 Ini Tembus 5 Ribu Orang, http://palembang.tribunnews.com/2018/10/19/berita-terkini-palembang-calon-janda-dan-duda-di-kota-palembang-tahun-2018-ini-capai-5-ribu-orang?page=all.
Penulis: Reigan Riangga 
Editor: Sudarwan
OKI Expo 2018 Sepi Pengunjung, Tak Belajar Dari Pengalaman

OKI Expo 2018 Sepi Pengunjung, Tak Belajar Dari Pengalaman


Perhelatan OKI Expo yang baru saja digelar Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dalam rangka menyambut HUT ke-73 kurang diminati perusahaan yang ada di wilayah tersebut.

Sebab itu, berbagai evaluasi akan dilakukan oleh dinas perdagangan Kabupaten OKI, terkait pelaksanaan OKI Expo yang tidak menonjolkan penghasilan atau ragam seni budaya di wilayah masing-masing.

Berdasarkan pantauan Sripoku.com saat pelaksanaan OKI Expo, sepi dari pengunjung dan stand yang ditampilkan tak sesuai dengan keadaan kegiatan dan budaya seni di daerah-daerahnya.

Wakil Ketua DPD Jaringan Pendamping Kinerja Pemerintah (JPKP) Kabupaten OKI, M Ali Musa SE mengatakan, seharusnya perhelatan OKI Expo harus berkaca pada kegiatan sebelumnya. Karena kegiatan tahun ini jelas hanya menghamburkan uang dan tak ada azaz manfaatnya ke masyarakat.

"Ini namanya kegiatan sia-sia yang hanya menghabiskan uang negara. Lebih jelas kegiatan ini menunggangi pasar malam dan hanya menguntungkan pihak luar datang ke OKI, hanya membawa duit," kata Ali jelas pemerintah hanya main-main dalam acara tahunan ini.

"Masak setiap tahun kegiatan OKI Expo menjadi ajang evaluasi terus," ucap Ali.

Dirinya tak ingin selalu menjadi evaluasi dan kapan terlaksana lebih baik dan meriah bagi masyarakat OKI bukan hanya untuk golongan pejabat.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan OKI, Sudiyanto Djakfar mengatakan, karena pada perhelatan OKI Expo lalu, baru sedikit pihak swasta yang ikut, padahal banyak sekali perusahaan swasta yang ada di OKI ini.

"Mereka memiliki hasil produksi yang bisa dipamerkan," terangnya, Rabu (17/10/2018).

Baca: Video Curhat Pelatih PSMS Medan Saat Timnya Berada di Dasar Klasemen

Menurutnya, tahun ini baru Bulog dan beberapa bank yang ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.

Selain itu pihaknya juga ingin pengusaha lokal lebih meningkatkan hasil olahannya khususnya packing.

"Kalau dilihat packing yang dihasilkan kurang menarik, padahal hasil produksinya bernilai ekonomis seperti terasi dari Tulung Selapan Kemplang dan sejenisnya," bebernya.

Dikatakannya, jika packingnya bagus maka akan meningkatkan nilai jual yang tinggi terhadap produksi tersebut.

Baca: Berita Palembang: Lakukan Cooling System, Polsek Plaju Selenggarakan Lomba Burung Berkicau

Apalagi usaha ini sudah lama dilakukan bahkan dikenal hingga Nusantara.

Ditanya masalah kunjungan selama OKI Expo saat itu, Sudiyanto menuturkan, cukup banyak, karena bukan hanya produksi saja yang dipamerkan tapi juga pelayanan khususnya perekaman e-KTP yang diminati para pengunjung.

"Dalam kegiatan tersebut target transaksi juga sama dengan apa yang diharapkan lebih kurang Rp 3 miliar perputaran uang yang dihasilkan, karena banyak yang memborong kerajinan mulai dari songket, tikar hingga hasil pertanian," tukasnya.

Sementara itu, Camat Sirah Pulau Padang, Herliansyah menambahkan, selama OKI Expo berbagai kerajinan khas wilayahnya dipamerkan, semuanya diminati seperti tas handmade dan makanan ringan.

Artikel ini telah tayang di sripoku.com dengan judul Berita OKI : OKI Expo Sepi Pengunjung. JPKP : Seharusnya Harus Berkaca Dari Sebelumnya, http://palembang.tribunnews.com/2018/10/17/berita-oki-oki-expo-sepi-pengunjung-jpkp-seharusnya-harus-berkaca-dari-sebelumnya?page=all.
Penulis: Mat Bodok 
Editor: Siti Olisa
Budaya Musik Remix Orgen Tunggal Di Kawasan Palembang Metropolitan

Budaya Musik Remix Orgen Tunggal Di Kawasan Palembang Metropolitan


Musik remix di Palembang - Musik Remix termasuk dalam kelompok musik elektrik atau musik digital EDM. Namun jenis musik yang satu ini begitu populer, berkembang dan membudaya di kehidupan masyarakat Palembang dan sekitarnya.

Sejarah Musik Remix Orgen Tunggal

Entah darimana asalnya, saya tak menemukan sumber yang bisa dijadikan referensi yang valid terkait ini. Sejauh yang saya ketahui, musik ini sudah ada ketika saya masih dibangku SMP, dan itu tahun 2000. Maka sangat mungkin genre musik ini mulai berkembang dimasyarakat sekitar tahun-tahun sebelum itu, ok kita asumsikan kisaran tahun 1997 keatas yah.

Kenapa 1997?, untuk Genre musik EDM, ditahun-tahun sebelum itu secara luas dikota-kota besar Indonesia musik EDM yang dikenal adalah Genre Musik Trance. Itu juga berdasarkan cerita oom saya dan beberapa sumber media online, silakan saja pastikan sendiri di pencarian google dengan keyword "Sejarah Musik EDM di Indonesia".

Musik remix ini sendiri sepertinya merupakan hasil pengembangan dari musik funkot, entahlah, bisa jadi juga musik remix ini tak lain adalah musik funkot itu sendiri yang diadaptasikan agar lebih merakyat sehingga mudah diterima masyarakat.

Pro dan Kontra Musik Remix Orgen Tunggal

Kembali lagi ke Musik Remix, dibeberapa Daerah Sumsel musik ini sudah dilarang oleh pihak kepolisian dan pemuka masyarakat setempat. Namun masyarakatnya sendiri tidak begitu peduli dengan berbagai larangan tersebut. baca: Kapolres dan Pemuka Masyarakat Sepakati Larangan Musik Remix Orgen Tunggal.

Dihasil pencarian google berita tentang ini banyak sekali kok, mulai dari kota Palembang, Banyuasin, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, Penukal Abab Lematang Ilir dan kepolisian didaerah-daerah lainnya juga sudah melakukan sosialisasi yang sama untuk mentertibkan budaya ini.

Sebagaimana fakta dilapangan, budaya hiburan Musik Remix Orgen Tunggal ini menjadi ajang penggunaan Narkoba dan Narkotika secara masal. Konsumsi alkoholnya juga parah banget guys, terbukti dengan banyaknya penjual minuman beralkohol disekitarnya.

Selain itu, kumpulan keramaian semacam ini akan sangat berpotensi munculnya kekerasan, pertikaian, pengeroyokan, pembunuhan ataupun aksi-aksi kriminal lainnya yang didasari oleh miras dan narkoba/narkotika tentunya.

Solusi

Semua yang saya tuliskan diatas hanya berdasarkan pengetahuan pribadi yah, tak bermaksud menghakimi atau menjudge pihak-pihak tertentu, dan hanya sebatas pengetahuan umum saja.

Menurut saya, untuk mengatasi permasalahan ini pihak pemerintah sebaiknya mengambil langkah lebih jauh lagi. Tentu bukanlah perkara mudah menggantikan kebiasaan kesenangan yang sudah 20 tahun dinikmati masyarakat.

Tidak hanya menghimbau, melarang, menghentikan ataupun menangkap oknum pelanggar. Dengan sedemikian rupa pihak penguasa juga harus menawarkan atau mensosialisasikan budaya musik lain sebagai penggantinya.

Dan itu tak akan bisa dilakukan tanpa pendekatan ekstra kepada pengusaha industri orgen tunggal, pemuka masyarakat setempat juga masyarakatnya itu sendiri. Khususnya pihak Kepolisian dalam mentertibkan konsumsi alkohol dan narkoba/narkotika yang menggila ini.

Penutup

Budaya semacam ini benar-benar budaya yang kritis, sulit sekali membayangkan bagaimana anak cucu kita nantinya harus tumbuh dilingkungan semacam ini, yang semakin hari terus mewabah ke seluruh kalangan masyarakat.

Foto: Iwan Kurniawan
Kapolres OI dan Pemuka Masyarakat Sepakati Larangan Musik Remix

Kapolres OI dan Pemuka Masyarakat Sepakati Larangan Musik Remix

Wakil Ketua DPRD OI, Kapolres OI, Ketua MUI, Kepala BNNK OI dan pihak terkait lainnya usai Rakor yang memutuskan melarang musik remix di Ogan Ilir. Foto/Harry
Indralaya – Pemkab Ogan Ilir (OI) bersama Polres, DPRD, BNNK, Ulama dan tokoh masyarakat, telah menyepakati bahwa untuk setiap pergelaran pesta yang dilaksanakan warga di seluruh Kabupaten OI, dilarang menampilkan Orgen Tunggal (OT) dengan musik remix atau house music.

Hal itu tertuang dalam surat kesepakatan rapat kordinasi yang dilaksanakan Rabu (19/7) di Mapolres OI yang dihadiri oleh Kapolres OI AKBP Arief Rifai, Sekda OI Herman, Wakil Ketua DPRD OI Wahyudi, Kepala BNNK OI AKBP Abdul Rahman, Ketua MUI OI Muksin Qori, sejumlah SKPD Pemkab OI, perwakilan pemilik Organ Tunggal, camat dan kades.

Dalam Rakor itu dirumuskan bahwa hiburan resepsi warga yang menggelar musik organ tunggal dibatasi hingga pukul 23.00 WIB kecuali dalam kegiatan kenegaraan, bersedia menjaga keamanan dan ketertiban tanpa menyediakan minuman keras dan narkotika serta berpakaian sopan.

Apabila terjadi pelanggaran sesuai kesepakatan dan aturan yang berlaku, maka akan diberi sanksi tegas bagi penyelenggara dan pemilik Organ Tunggal.

Wakil Ketua DPRD OI Wahyudi mengatakan bahwa rapat kordinasi yang telah disepakati bersama ini harus didukung karena untuk kepentingan masyarakat banyak.

Kapolres OI AKBP Arief Rifai menambahkan, mufakat ini dibuat secara bersama-sama sebagai jalinan semangat moral dan kerjasama antara elemen masyarakat dan pihak terkait. "Kita harapkan semoga aturan yang telah disepakati ini dapat berjalan dan dipatuhi oleh masyarakat," tegasnya. (Korankito.com/Harry/Fran)