Sabtu, 10 November 2018

Sejarah Pertempuran 5 Hari 5 Malam Melawan Penjajah Di Kota Palembang

MetroPalembang - Seperti kita ketahui dari buku -buku literatur sejarah, bahwa Belanda sangat berhasrat untuk menguasai Pulau Jawa dan Sumatera. Kekayaan alam yang ada di kedua pulau tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi bangsa asing. Salah satunya Sumatera Selatan menjadi kebanggaan sekaligus ancaman bagi bangsa asing .

Di Sumatera terkenal dengan perang 5 hari 5 malam, pertempuran ini terjadi dari tanggal 1 hingga 5 Januari 1947.

Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang merupakan perang tiga matra yang pertama kali kita alami, begitu pula pihak Belanda. Perang tersebut terjadi melibatkan kekuatan darat, laut, dan udara.

Belanda sangat berkepentingan untuk menguasai Palembang secara total karena tinjauan Belanda terhadap Palembang dari aspek politik. ekonomi dan militer. Dalam aspek politik, Belanda berusaha untuk menguasai Palembang karena ingin membuktikan kepada dunia internasional bahwa mereka benar-benar telah menguasai Jawa dan Sumatera.

Ditinjau dari aspek ekonomi berarti jika Kota Palembang dikuasai sepenuhnya maka berarti juga dapat menguasai tempat penyulingan minyak di Plaju dan Sei Gerong. Selain itu, dapat pula perdagangan karet dan hasil bumi lainnya untuk tujuan ekspor.

Sedangkan jika ditinjau dari segi militer, sebenarnya Paskan TRI dan pejuang yang dikonsentrasikan di Kota Palembang merupakan pasukan yang relatif mempunyai persenjataan yang terkuat, jika dibandingkan dengan pasukan-pasukan di luar kota.

Berikut Perjalanan Perang 5 hari 5 malam yang dihimpun Sripoku.com dari berbagai sumber ;

1 januari 1947

Pertempuran pertama terjadi pada hari Rabu 1 Januari 1947

Belanda melancarkan serangan dan tembakan yang terus menerus diarahkan ke lokasi pasukan RI yang ada di sekitar RS Charitas. RS Charitas berada di tempat yang strategis karena berada di atas bukit sehingga menjadi basis pertahanan yang baik bagi Belanda.

Dari RS Charitas terjadi rentetan tembakan disusul oleh ledakan-ledakan dahsyat kearah kedudukan pasukan RI yang bahu-membahu dengan tokoh masyarakat bergerak dari pos di Kebon Duku (24 Ilir-sekarang) mulai dari Jalan Jenderal Sudirman terus melaju kearah Borsumij, Bomyetty Sekanak, BPM, Talang Semut.

2 Januari 1947

Alat altileri berat yang berada di dalam benteng kuto besak tahun 1947 Foto : Kitlv (http://www.palembangdalamsketsa.com/)

Diperkuat dengan Panser dan Tank Canggih Belanda bermaksud menyerbu dan menduduki markas Tentara Indonesia di Masjid Agung Palembang. Pasukan Batalyon Geni dibantu oleh Tokoh Masyarakat bahu membahu memperkuat barisan mengobarkan semangat jihad yang akhirnya dapat berhasil mempertahankan Masjid Agung dari serangan sporadis Belanda.

Pasukan bantuan Belanda dari Talang Betutu gagal menuju Masjid Agung karena disergap oleh pasukan Lettu Wahid Luddien sedangkan pada hari kedua Lettu Soerodjo tewas ketika menyerbu Javache Bank.

Di Seberang Ulu Lettu Raden M menyerbu kedudukan strategis belanda di Bagus Kuning dan berhasil mendudukinya untuk sementara. Bertepatan dengan masuknya pasukan bantuan kita dari Resimen XVII Prabumulih.

3 Januari 1947

inilah perjalan perang 5 hari 5 malam di palembang (laskarwongkito.com/ wordpress.com)

Pertempuran yang semakin sengit kembali memakan korban perwira penting Lettu Ahmad Rivai yang tewas terkena meriam kapal perang belanda di Sungai Seruju. Keberhasilan gemilang diraih oleh Batalyon Geni pimpinan Letda Ali Usman yang sukses menghancurkan Tiga Regu Kaveleri Gajah Merah Belanda. Meskipun Letda Ali Usman terluka parah pada lengan.

Pasukan lini dua yang bergerak di lokasi keramat Candi Walang (24 Ilir) menjaga posisi untuk menghindari terlalu mudah bagi belanda memborbardir posisi mereka. Sedangkan pasukan Ki.III/34 di 4 Ulu berhasil menenggelamkan satu kapal belanda yang sarat dengan mesiu. Akibatnya pesawat-pesawat mustang belanda mengamuk dan menghantam selama 2 jam tanpa henti posisi pasukan ini.

Pada saat ini pasukan bantuan kita dari Lampung, Lahat dan Baturaja tiba di Kertapati, namun kesulitan memasuki zona sentral pertempuran di areal masjid agung dan sekitar akibat dikuasainya Sungai Musi oleh Pasukan Angkatan Laut Belanda.

4 Januari 1947

Belanda mengalami masalah amunisi dan logistik akibat pengepungan hebat dari segala penjuru oleh tentara dan rakyat, sedangkan tentara kita mendapat bantuan dari tokoh masyarakat dan pemuka adat yang mengerahkan pengikutnya untuk membuka dapur umum dan lokasi persembunyian serta perawatan umum.

Pasukan Mayor Nawawi yang mendarat di Keramasan terus melaju ke pusat kota melalui jalan Demang Lebar Daun. Bantuan dari pasukan ke Masjid Agung terhadang di Simpang empat BPM, Sekanak, dan Kantor Keresidenan oleh pasukan Belanda sehingga bantuan belum bisa langsung menuju ke wilayah Charitas dan sekitarnya.

5 Januari 1947

Pada hari ke lima, panser Belanda serentak bergerak maju ke arah Pasar Cinde namun belum berani maju karena perlawanan sengit dari Pasukan Mobrig, pimpinan Inspektur Wagiman dibantu oleh Batalyon Geni. Sedangkan pasukan Belanda di jalan Merdeka mulai Sekanak tetap tertahan tidak mampu mendekati Masjid Agung.

Akibat kesulitan tentara Belanda di bidang logistik dan kesulitan yang lebih besar pada pihak pejuang pada bidang amunisi akhirnya dibuat kesepakatan untuk mengadakan gencatan senjata (cease fire) antara kedua belah pihak, dimana TRI/Lasykar harus kelur dari Kota Palembang sejauh 20 Kilometer kecuali Pemerintah Sipil RI dan ALRI masih tetap berada di dalam kota. Sedangkan pos-pos Belanda hanya boleh sejauh 14 Km dari pusat kota. Jalan raya di dalam kota dijaga pasukan Belanda dengan rentang wilayah 3 Km ke kiri dan kanan jalan. Hasil perundingan ini selanjutnya segera disampaikan ke markas besar TRI di Yogyakarta.

sumber ; Dimjati, M. (1951). Sedjarah Perdjuangan Indonesia, Djakarta: Widjaja

Nugroho Notosusanto. Marwatidjoened Poesponegoro (1987). Sejarah Indonesia V Balai Pustaka

Artikel ini telah tayang di sripoku.com dengan judul Selama 5 hari Inilah Sejarah Pertempuran 5 hari 5 malam Di Palembang, http://palembang.tribunnews.com/2018/11/10/selama-5-hari-inilah-sejarah-pertempuran-5-hari-5-malam-di-palembang?page=all.
Penulis: Budi Darmawan
Editor: Budi Darmawan

Artikel ini diterbitkan dengan itikad baik dan sebatas bacaan yang Informatif. Tak ada jaminan apa pun perihal kelengkapan dan keakuratan informasi ini. Sebagian berita merupakan saduran dari media pemberitaan lainnya. Jika terdapat sanggahan, sangkalan atau apapun terkait dengan berita ini dapat menghubungi kami melalui kontak yang tertera dibagian bawah halaman.

0 Please Share a Your Opinion.: