Sejarah Ki Marogan, Bangun Masjid Muara Ogan dan Haji Umur 8 Tahun

Desember 06, 2018


MetroPalembang.com - Masjid Kiai Muara Ogan yang berada tepat di belakang Stasiun Kertapati Palembang. Salah satu tokoh yang melegenda di Kota Palembang adalah Ki Marogan.

Bahkan sampai saat ini nama Ki Marogan tidak asing di telinga masyarakat Palembang, terlebih sampai saat ini Masjid Ki Marogan di Seberang Ulu masih berdiri kokoh.

Sebenarnya siapa sih Ki Marogan ini? Berikut Sripoku.com melakukan wawancara ekslusif dengan salah satu keturunannya.

Kiai Marogan ini adalah seorang ulama bernama lengkap Mas Agus Abdul Hamid namun lebih dikenal dengan panggilan Kiai Marogan.

Kiai Marogan tak kenal lelah menyebar Syiar Agama Islam di Bumi Sriwijaya khususnya di Kota Palembang.

Lahir dari pasangan Ulama KH Mahmud alias Kanang yang merupakan keturunan dari Sunan Giri dari Jawa yang diasingkan ke Palembang sejak zaman Belanda ini menikah dengan seorang Putri keturunan Cina, bernama Siti Fatimah.

Berdasarkan cerita Piyut atau keturunan ke-5 dari Kiai Marogan bernama Ismail, Kiai Marogan kecil sudah ditinggal ibunya sejak umur 8 tahun. 

Tak lama berselang, Kiai Marogan juga harus kehilangan ayahnya saat menunaikan ibadah haji bersamanya melalui jalur laut. 

"Di perjalanan pulang ayah Kiai Marogan, KH Mahmud meninggal dunia. Saat hendak dibawa menepi ke daratan kapal yang dikendarai tidak bisa bergerak meskipun arus sedang kencang. Dengan meminta petunjuk dan berdoa kepada Allah, barulah kapal tersebut bisa bergerak dan KH Mahmud dimakamkan di Negara Yaman," jelas Ismail.

Ki Marogan kecil yang dibesarkan di daerah 4 Ulu Kecamatan SU I Palembang melakukankan najar munjas yang artinya mewakafkan tanahnya untuk dibangunkan dua masjid yang pada zamannya disebut (anak yatim) lantaran tidak diperhatikan dan terbengkalai.

"Dua anak yatim ini bernama Masjid Kiai Muara Ogan yang dibangun pada Tahun 1871 dan Masjid Lawang Kidul 10 tahun kemudian," jelas Piyut atau keturunan ke 5 dari Kiai Marogan bernama Ismail dijumpai Sripoku.com, Rabu (5/12/2018).

Meskipun tanpa ayah dan ibunya, Kiai Marogan terus berusaha hidup mandiri untuk menyambung hidup.

Sambil belajar ilmu fiqih dan ilmu bela diri pencak silat dengan Pangeran Suryo, sambil mengumpulkan ranting serta kayu bakar untuk dijual demi menyambung hidup.

"Usaha yang tekun ini menjadikan Kiai Marogan menjadi saudagar kayu di Palembang dan mempersunting istri pertamanya Masayu Mazna dan mempunyai dua anak bernama Masagus H Abu Mansyur dan Fatimah Zuhro,"

"Kemudian, menikahi istri keduanya anak dari Pangeran Suryo bernama Raden Ayu Salma dan mempunyai satu orang anak bernama Masagus H M Usman," jelasnya.

Kiai Marogan kembali melakukan perjalan ke Mekkah dan berguru dengan seorang Syeh yang ada di sana selama lima tahun kama di Arab Saudi.

"Kemudian dari perjalanannya selama 5 tahun di Mekkah lah membuat Kiai Marogan kembali ke Palembang dan kembali memperhatikan dua anak yatim yang ditinggalkannya yakni Masjid Kiai Muara Ogan dan Masjid Lawang Kidul."

"Dinamakan anak yatim lantaran bukan hanya ditinggalkan orang tua, melainkan terbengkalai dan harus diperhatikan," ujarnya.

"Tiap kali menyebar syiar Islam Kiai Marogan selalu memberikan tanda Napak Tilas seperti membangun mushola serta masjid di tiap daerah yang dikunjungi sebelum meninggal dunia di usia 90 tahun pada tanggal 17 Rajab 1319 H atau 31 Oktober 1901 dalam kalender hijriah," jelasnya menambahkan.

Artikel ini telah tayang di sripoku.com dengan judul Sejarah Kiai Marogan, Yatim Piatu Sejak Kecil Bangun Masjid & Haji di Umur 8 Tahun, http://palembang.tribunnews.com/2018/12/05/sejarah-kiai-marogan-yatim-piatu-sejak-kecil-bangun-masjid-haji-di-umur-8?page=all. Penulis: Reigan Riangga.Editor: Siti Olisa.

You Might Also Like

0 comments

Like us on Facebook

Flickr Images