Header Ads

10 Tahun Bitcoin, Bagaimana Potensi Kedepannya ?

Bitcoin dengan perkembangannya luar biasa dan agresif, buat dag dig dug investornya. Namun, hingga hari ini masih pun ada tidak sedikit pertanyaan mengiringi bubble mata duit virtual ini. 

Konon, pada 2009 itu, Satoshi Nakamoto yang dianggap sebagai creator Btc (bitcoin) mengantarkan sejumlah Btc ke koleganya. “Transfer” ini disertai daftar “The Times 03/Jan/2009 Chancellor on brink of second bailout for banks”.

Kiriman dan pesan itu menandai dimulainya transaksi dengan mata duit virtual Btc di semua dunia dalam suatu sistem Blockchain Bitcoin alias Genesis Block.

Jauh sebelum tersebut terjadi, Satoshi yang sampai sekarang belum diketahui orangnya yang mana, memformulasi Btc sedemikian rupa. Akibatnya, pertumbuhan Btc merasakan pasang-surut.

Waktu itu, terdapat kekhawatiran semua creator-nya mengenai respons masyarakat finansial dunia tehadap Btc. Karenanya, mata duit virtual yang sekarang sangat populer ini ‘hidup’ secara underground lewat komunitasnya yang ekslusif.

Kini, Btc telah menculik perhatian masayarakat finansial dunia bahkan otoritas negara membicrakannya sebagai isu internasional. Btc lantas menjadi ‘mainan’ baru dunia investasi semua kalangan berduit yang haus produk baru mendulang deviden berlipat.

Akun empunya bitcoin wallet terus meningkat pesat dalam sejumlah tahun terakhir. Data terakhir menyebut, terdapat 21,4 juta bitcoin wallet di penghujung 2017.

Bagaimana Perkembangan Bitcoin di Tahun 2019

Dari jumlah itu, sejumlah ratus ribu di antaranya dipunyai para member yang tercatat di Bitcoin.co.id. Hingga ketika ini, terdapat lebih dari seratus Crypto Exchanges di lebih dari 50 negara.

Itu baru dari jumlah akun. Jika meneliti bagaimana pergerakan nilai Btc, anda akan lebih terhenyak lagi. Fenomena apa juga yang sedang di balik pergerakan nilai Btc, pasti saja itu sukses memancing ragam reaksi dari penjuru dunia.

Pada mula 2010, nilai Btc tidak cukup dari satu sen dollar AS kemudian menjadi 200-an dollar AS pada mula 2015, lantas menjadi 900-an dollar AS pada mula 2017. Sepanjang 2017, Btc sempat membukukan eskalasi lebih dari 1.800 persen.

Dan, rupanya 2017 ialah masa keemasan Btc dalam urusan menyita perhatian publik. Akun-akun korporasi mulai mengecat pemegang aset Btc. Investment banking dan hedge fund dari semua dunia mulai menginvestasikan beberapa aset mereka ke bitcoin dan produk crypto currency lainnya.

Publik Amerika telah dapat melakukan pembelian kontrak Futures bitcoin di CBOE (Chicago Board Options Exchange) dan CME Group (Chicago Mercantile Exchange & Chicago Board of Trade). Langkah itu dibaca publik sebagai format dukungan pemerintah Amerika terhadap Btc.

Kejayaan Btc berlanjut. Kenaikan nilai investasi yang menjangkau 1.400 persen mengakibatkan Btc diperbandingkan dengan nilai investasi bursa dunia. Berikut ini ialah gambaran kinerja investasi Btc dan bursa ternama.

Pada ulang tahunnya yang kesembilan, hari ini, harga satuan Btc masih perkasa bercokol di harga 14.000-an dollar AS. Artinya, dengan jumlah Btc yang beredar ketika ini, yaitu sekitar 16,77 juta Btc, valuasinya menjangkau sekitar 230 miliar dollar AS.

Jika anda iseng mencocokkan dengan nilai APBN kita, valuasi itu setara 1,35 kali nilai APBN 2018 atau selama 45 persen nilai pasar borongan saham di IHSG.

Bitcoin berkeinginan dibawa ke mana?

Satoshi layak bangga dengan pencapaian bitcoin sekitar 9 tahun ini. Pertanyaannya, berkeinginan Ke mana bitcoin?

Kejayaan Btc yang luar biasa itu memang diiringi tidak sedikit tanya, baik dari masyarakat awam maupun semua investornya. Euforia Btc dibayangi awan gelap yang datang dari sebanyak fakta.

Di samping teknologinya yang mempunyai sifat open source—yang rentan mengundang praktik hacking—, misalnya, siapa pihak bertanggung jawab terhadap kinerja Btc? Lalu, akankah Btc dan virtual money lainnya bakalan diterima menjadi perangkat tukar sah? Bagaimana masa mendatang Btc? Masih terdapat sederet pertanyaan beda lagi.

Potensi Bitcoin Tahun Ini


Pertama, tidak terdapat satu institusi juga yang mempunyai otoritas dan bertanggung jawab atas kelangsungan dan kegagalan bitcoin. Fakta ini menyebabkan tidak sedikit bank sentral dan pemerintahan kendala mengatur dan meregulasikan kepandaian bitcoin di teritori mereka masing-masing.

Beberapa negara bahkan memungut langkah fanatik dalam memproteksi perekonomian mereka, termasuk menangkal larinya dana mereka ke negara beda yang lebih berpengaruh dan mempunyai cadangan bitcoin lebih banyak. Misalnya, dengan tidak mengizinkan transaksi deposit mata duit fiat ke Crypto Exchanges, walau tetap tidak mempedulikan transaksi trading-nya berlangsung.

Negara yang punya keleluasaan cadangan devisa lazimnya mengambil tahapan yang lebih berani dengan memperhitungkan sebagian cadangan devisanya ke dalam format bitcoin.

Bahkan, ada pun yang terang-terangan menyokong dan mendanai pelbagai kegiatan untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi potensi ekonomi yang dapat didapatkan dari bitcoin dan Crypto Currency lainnya. Mereka benar-benar menjadikan ini sebagai kesempatan investasi, dengan asa dikemudian hari dapat meningkatkan cadangan devisa negara mereka.

Beberapa negara yang telah terlanjur masif adopsi bitcoinnya, mulai mengambil tahapan lebih maju dalam mengantisipasi akibat negatif. Antara beda dengan mempertimbangkan mengembangkan Crypto Currency mereka sendiri, yang dikelola oleh bank sentral di negara mereka.

Beda lagi dengan negara yang tengah merasakan krisis ekonomi, atau cadangan devisanya terbatas. Di tengah kegiatan mengurusi hal dalam negerinya, daripada mengalami keadaan bingung mereka ingin membiarkan begitu saja, dan laksana tidak berdaya mengelola kegiatan para investor mereka yang gelap mata mengejar bitcoin.

Negara-negara yang mempunyai cadangan bitcoin terbesar bercita-cita besar pada gejala transaksi Btc masing-masing harinya. Sedikitnya bakal masuk puluhan milliar dollar AS ke sistem perekonomian negara tersebut.

Tentu saja, dengan sadar negara-negara ini akan mengawal kondusivitas dari bitcoin, mengampanyekan bitcoin ke semua pelosok dunia demi melanggengkan kelangsungan “bisnis” digital berskala global ini.

Dari sini terlihat, tidak terdapat satu keseragaman pada negara-negara itu dalam pengelolaan bitcoin di Negara mereka.

Kedua, teknologi yang dipakai dalam sistem bitcoin, atau yang lazim dikenal sebagai Blockchain juga masih terus merasakan pengembangan walau sudah dikembangkan semenjak 2008.

Walaupun mempunyai sifat open source, yang dengan kata lain dapat di akses oleh publik, teknologi ini tetap saja mash terhitung rumit dan sulit dicerna oleh tidak sedikit praktisi teknologi informasi di mana pun.

Selama 2017 saja, terjadi sejumlah kali hard fork, semacam perbaikan dan pengkinian terhadap sistem Blockchain, yang tujuannya meningkatkan keterampilan dan mengerjakan perbaikan-perbaikan terhadap teknologi tersebut sendiri.

Blockchain Di Indonesia 2019

Teknologi Distributed Ledger yang dianut Blockchain, kiat cryptography yang dipakai untuk menyelamatkan sistemnya, konsep bitcoin mining dan reward di dalamnya, mekanisme pendaftaran dan verifikasi-nya yang canggih, serta pelbagai metode menarik nan perumahan yang dikembangkan Satoshi benar-benar adalahpaket teknologi yang arsitektur sistem dan teknik kerjanya dengan gampang membingungkan masyarakat awam.

Belakangan, keruwetan dan kompleksitas sistem Btc sering menjadi bahasa magis yang sering dikumandangkan oleh tidak sedikit media mainstream, termasuk pun potensi-potensi yang bisa diaplikasikan teknologi ini. Namun, sepertinya semua pelaku industri Blockchain lebih memilih terlena untuk merasakan gurihnya profit dari investasi bitcoin daripada berpeluh dengan kompleksitas dan pengaplikasian teknologi Blockchain yang masih belum aplikatif.

Pemberitaan yang begitu masif di sejumlah media massa utama dunia, terlebih dengan kehebohan yang dimunculkan dari eskalasi harga bitcoin dalam sejumlah bulan terakhir, sudah secara otomatis menaikkan popularitas bitcoin dan berhasil menyedot tidak sedikit investor guna berburu bitcoin.

Apakah kemudian dengan populasi pemakai dan investor bitcoin yang makin masif dan segera menjadi mainstream ini besok akan menjadi tekanan untuk pemerintahan di tidak sedikit negara guna segera mengakui dan menerimanya sebagai perangkat pembayaran?

Ketiga, masyarakat pada lazimnya belum menerima pemakaian uang virtual. Masyarakat memerlukan waktu untuk memahami bagaimana teknik memperoleh, menyimpan, mengamankan, dan memakai bitcoin.

Hal yang sama pun terjadi dengan pemerintah setiap negara. Otoritas masih belum menemukan teknik memonitor dan mengendalikan pergerakan duit digital ini. Akun empunya Btc bisa dengan gampang dan cepat mengalihkan harta virtual mereka salah satu mereka sendiri tanpa perantaraan siapa pun—apakah tersebut bank ataupun lembaga lain—sehingga keberadaannya tidak gampang terlacak.

Model finansial semacam ini paling rentan dipakai untuk mengongkosi kegiatan-kegiatan terorisme, money laundry, penggalangan dana untuk pekerjaan terlarang, durjana narkoba, atau transaksi ilegal lainnya.

Keempat, konsep bitcoin sebagai mata duit sedemikian rumit dan kompleks, sehingga memunculkan kesulitan untuk banyak masyarakat umum guna memahaminya, untuk memahami karakterisitk dan teknik kerjanya.

Yang sangat utama ialah konsep dan mekanisme penciptaan bitcoin. Penjelasan tentang bagaimana sistem Bitcoin Blockchain mencetak duit bitcoin baru, yang sering dikenal dengan istilah mining, tersebut saja telah cukup buat pusing untuk kebanyakan orang.

Secara keseluruhan, bitcoins melulu akan berjumlah 21 juta. Hingga hari ini, proses bitcoin mining baru menghasilkan selama 16,77 juta bitcoins, dan diduga populasi utuhnya akan terjangkau pada 2140.

Kemudian, bagaimana sistem itu menyimpan dan mengelola semua transaksi bitcoin, baik dari transaksi menghasilkan maupun transaksi mengirim dan menerima bitcoin, ini pun membuat tidak sedikit orang kendala membayangkan persisnya cara dan teknik kerjanya.

Kelima, yang terakhir sekaligus yang tidak kalah membingungkan ialah konsep nilai yang termuat dalam satu bitcoin.

Nilai mata duit fiat umumnya diprovokasi cadangan emas atau faktor-faktor lain laksana stabilitas sebuah negara, keyakinan terhadap mata uang, dan volume perniagaan yang melibatkan mata duit tersebut.

Lain halnya dengan bitcoin. Semula, penciptaannya hendak terhindar dari pengaruh supply dan demand. Namun, pada perkembangannya justeru sangat tergantung dengan supply dan demand. Hal ini dominan pada volatilitas nilai dari bitcoin tersebut sendiri.

Perilaku pergerakan nilai dan volatilitas bitcoin yang naik turun bak roller-coaster, laksana mengingatkan anda bagaimana bitcoin lantas diperlakukan layaknya komoditas investasi lainya. Bitcoin terlihat bukan lagi diperlakukan sebagai mata dana yang nilainya relatif lebih stabil sampai-sampai dapat dipergunakan sebagai perangkat pembayaran dan bisa dijadikan simpanan.

Di tidak sedikit negara, walau sudah tidak sedikit merchants yang menerima pembayaran dengan bitcoin, nampaknya volume transaksinya mereka juga masih paling minim.

Hal ini gampang dimaklumi sebab para pemilik bitcoin pasti tidak kepengin menukarkan bitcoin yang mereka miliki ketika ini dengan secangkir kopi atau seloyang pizza, sebab di sejumlah bulan mendatang bitcoin mereka bakal menjanjikan deviden luar biasa.

Namun, kelihatannya kebingungan-kebingungan tersebut tidak bakal menyurutkan minat semua investor. Meski harganya telah dinilai tidak sedikit pengamat merasakan bubble, bitcoin tetap saja unik di mata semua investor yang laksana gelap mata memburunya. Mungkinkah ini format optimisme semua investor menyambut tahun baru?

Pada hari ulang tahun ke-9 bitcoin ini, andai saja kita berpeluang bertanya untuk Satoshi, barangkali dia sendiri akan keadaan bingung dengan arah dan masa mendatang bitcoin yang semula ia ciptakan guna menjadi duit baru, duit digital yang pun dapat dipergunakan sebagai perangkat pembayaran.

Jadi, Mister Satoshi, inginkan dibawa ke mana bitcoin?

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.